Harapan

HARAPAN adalah hal yang melekat pada setiap makhluk hidup di dunia ini. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Semuanya melekat pada harapan. Setidaknya sebuah kebenaran menyatakan hal tersebut, yang menyatakan bahwa harapan pun ada melekat pada makhluk hidup selain manusia: “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.

HARAPAN adalah pernyataan tentang hidup.
Bagi yang hidup perlu beralaskan harapan.

Adakah engkau pernah memikirkan mereka, manusia, yang putus harapan?
Adakah ada hati dan doa yang pernah terselip mengusahakan harapan bagi mereka?

 

Berhitung

Perhitungan proyeksi ke depan merupakan tindakan yang tepat!

Perhitungannya harus detail, yaitu cermat memperhitungkan plus minus apa yang akan terjadi. Perhitungan secara umum dikenal sebagai tindakan melihat ke depan. Aku rasa banyak orang akan setuju tentang hal ini.

Namun, aku mau berbagi bahwa ada saatnya kita perlu menghitung apa yang sudah pernah terjadi, karena catatan sejarah hidup kita merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya untuk diperhitungkan!

Kehidupan kita yang lalu merupakan rangkaian hasil perhitungan yang pernah kita lakukan! Coba lihat perhitunganmu di masa lalu, maka masa depanmu akan lebih beruntung!

 

Ngantor

Setiap orang kepingin kerja. Atau istilah yang sering dipakai adalah setiap orang kepingin pergi ngantor! Wkwkwkwk…. Kantor jadi identitas sosial yang paling dicari orang. “Kantornya di mana?” Jawabannya jadi sesuatu banget! Kalau lokasi kantornya “jelas” alias gampang dikenalin atau ada di daerah elite/downtown, maka jawabnya pasti tidak ragu-ragu! Malah jawabnya sambil ngegas poll!

Lalu, kalau kantornya ada di mana gituuu… yang gak banyak orang tahu, volume jawabannya sontak agak pelan. Sampai yang bertanya ulang: “hah?? di mana??”
Tapi sebenarnya ilustrasi ini tidak sepenuhnya benar.
Percaya diri atau tidak, seharusnya tidak dipengaruhi oleh label kantor.

Kita, kamu dan aku bisa ngantor di mana saja! Bahkan di rumah pun kita bisa ngantor. Kenapa engga? Toh yang penting menghasilkan dan kita puas atas hasil pekerjaan kita. Kamu pikir aku ngantor di mana? Hayo tebak! wkwkwkwk…

 

 

 

Jarak Pandang

Ketika dulu aku masih berputar-putar dengan permasalahan dosa yang memang tidak mau aku selesaikan, jarak pandangku tentang masa depan sangatlah buram! Karena yang aku lihat nyata hanyalah permasalahan dan permasalahan belaka! Kondisi itu membuat diriku jenuh dan enggan melanjutkan kehidupan.

Aku juga menemukan banyak anak muda yang hidupnya seperti aku dulu. Yaitu punya pandangan yang buram tentang masa depan. Apakah kamu juga begitu? Tidakkah kamu mau melihat hidupmu dengan kacamata yang lebih jernih?

Cobalah kamu berbicara pada Tuhan. DIA adalah pusat perubahan. DIA adalah terang bagi masa depan kita; aku dan kamu.

 

 

House Rule

Penting menerapkan peraturan rumah. Karena peraturan rumah menjadi bahasa yang mengarah pada setiap anggota keluarga. Bahkan menjadi warisan turun temurun.

Peraturan keluarga dapat pula dilihat sebagai sebuah budaya keluarga. Yaitu segala sesuatu, baik pikiran maupun tindakan keluarga tertata oleh peraturan yang sudah menjadi kebiasaan keluarga.

Sudahkah Anda memiliki peraturan rumah?

 

 

Membuat masa depan tidak abstrak

Banyak orang ingin meneropong masa depannya untuk melihat kepastian seperti apa masa depannya.

Masa depan saat ini terlihat abstrak. Karena sedetik ke depan tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Namun banyak yang peduli karena banyak hal yang terkini yang dahulunya tidak terbayang sekarang justru sudah jelang!

Ya, sedetik kedepan tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Namun jejak yang telah meninggalkan bayangan jelas merupakan bayangan apa yang akan terjadi.

Lihatlah bayangan hidup, itu dapat dijadikan kerangka masa depan. Bad or good.

Baru Yang Tabu

Sebuah puisi yang tidak peduli didengar atau tidak:
Luka itu bukan hal yang baru. Sudah ada sejak dulu.
Namun, sekalipun bukan hal yang baru, tidak ada yang tahu
Satu orang pun tidak ada yang tahu!
Bahkan aku pun seperti tulang yang penuh linu namun lidah kelu tak mampu mengeluh!

Lukaku ini bukan hal yang baru ….
Ku tutup rapat seperti hal tabu.

Kesulitan Yang Menggulung Semenjak Dulu!

Hidup “memang” rentan saling menyalahkan. Termasuk di dalam kehidupan keluarga. Antara anak dengan ortu selalu saja ada pemicu yang bisa dipergunakan untuk saling menyalahkan. Bahkan ekstremnya anak bisa memiliki pikiran bahwa kalau ortunya meninggal itu sebuah “kesempatan yang enak!” karena meninggalkan persoalan. Sementara bagi anak persoalan itu harus dia bawa dalam hidup dan itu adalah penderitaan!

Hidup yang saling menyalahkan berakibat pada akumulasi penderitaan yang bergulung-gulung. Sang anak yang membawa kekesalan keturunan dari ortunya, akan beranjak dewasa dan kemudian menikah, lalu alhasil punya peluang untuk menurunkan akumulasi penderitaan itu kepada anaknya. Demikian berulang dan semakin tajam!

Hidup yang rentan saling menyalahkan harus ketemu portal yang dapat menghentikan akumulasi penderitaan! Portal seperti apa ya?

Kesulitan Yang Tidak Menyulitkan

Kesulitan adalah keniscayaan. Tidak ada manusia yang tidak mengalami kesulitan. Bahkan seorang bayi pun yang baru lahir sudah berjumpa dengan kesulitan. Kemanakah manusia dapat berlari dan bersembunyi dari kesulitan? Tidak ada tempat di dunia yang dapat menjanjikan bebas sepenuhnya dari kesulitan. Kesulitan seperti sebuah pribadi yang mengintai setiap saat dan segera bergegas masuk ke dalam hidup kita yang memberikan kesulitan.

Bagaimanakan memandang kesulitan sebagai hal yang memang harus kita tanggung? Sementara tubuh kita seperti punya reaksi alami untuk menolak kesulitan.

Kami yang berada di bawah CWP adalah orang-orang yang bergelut dengan kesulitan. Melalui kesulitan kami mencoba menata kekuatan hidup melalui kreativitas. Kami pun percaya, seperti kesulitan yang merupakan keniscayaan, kreativitas pun sebuah keniscayaan! Mau kemanakah arah keniscyaan hidup kita? Melekat melulu dengan kesulitan atau berselancar dengan kreativitas?

id_ID