Cara Berhenti Menyenangkan Orang Lain

Dalam hidup, kadangkala kita mengenyampingkan hal-hal yang penting hanya untuk menyenangkan orang lain. Kalimat : “Ngga apa-apa asalkan kamu senang”; “Aku baik-baik saja yang penting Ibu senang dengan program itu” dan masih banyak macam lagi. Baik di rumah, lingkungan tinggal atau tempat kerja kita mungkin akan ketemu dengan kalimat-kalimat itu. Tidak ada yang salah dalam menyenangkan orang lain, tapi ketika itu dilakukan dengan terpaksa, maka ketulusan akan sulit diberikan kepada orang ingin disenangkan. Bukannya hati kita senang, namun perasaan dongkol kadang jadi bersarang di hati dan di pikiran kita. Yuk kita belajar bagaimana cara yang tepat untuk berhenti sekedar menyenangkan orang lain.

• Bersikap Jujur
Ketika kita bersikap jujur tentang apa yang kita rasakan, kita sebetulnya sedang membuat orang lain tahu apa isi hati kita dan itu akan menolong mereka memahami pemikiran kita.

• Ketahui Kebutuhanmu
Mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita lalu menyampaikan kepada orang lain, itu akan menolong kita dan orang lain sebagai jalan terbaik bagi semua pihak.

• Katakan TIDAK dengan baik
Butuh nyali yang besar untuk dapat mengatakan TIDAK pada hal yang memang seharusnya demikian. Tapi ketika kita berhasil menyatakannya, itu lebih berkuasa dari hal lainnya.

• Mempraktikkan Kepedulian Terhadap Diri Sendiri
Berlatih fisik, berolah raga, mengelola emosi dan kerohanian diperlukan agar dapat tetap waras berpikir ketika harus mengatakan TIDAK dan itu berarti peduli pada kewarasan diri.

• Tinggalkan Rasa Bersalah
Ketika kata TIDAK telah terucap dan ini muncul dari pemikiran yang benar, maka jangan merasa bersalah. Tinggalkan rasa bersalah itu dibelakang.

• Percayalah Bahwa Semua Akan Baik-baik Saja
Tidak perduli reaksi apa yang akan kamu dapatkan, mereka yang sungguh mengasihi kamu bisa menghormati apa yang menjadi kebutuhanmu.

 

So, Happy Practice…!

Sumber : DR. Nora Gold

 

 

 

Perbedaan Pendapat Di Dalam Keluarga

Apa yang diinginkan orang tua dan kehendak anak biasanya sering bersinggungan, sehingga dapat menimbulkan beberapa masalah yang bisa memicu atau menyebabkan adanya masalah keluarga. Keluarga bisa menjadi tempat berlindung yang aman, tetapi bagi sebagian orang bisa jadi sumber rasa sakit dan kekecewaan.

Perbedaan pendapat antara anak dan orang tua terkadang bisa membuatmu merasa tidak nyaman. Nyaman yang seharusnya bisa kamu rasakan, tapi malah membuatmu tidak betah berada di rumah.

Penyebab perbedaan pendapat yang sering terjadi dalam keluarga antara lain; tidak memberikan kesempatan orang lain untuk berbicara, takut untuk mengemukakan pendapat, memaksa orang lain untuk meyakini sesuatu, dan masih banyak lagi.

Lalu, bagaimana cara untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dengan bijaksana?

1. Saling menghargai satu sama lain
Perbedaan pendapat bukanlah sebuah masalah, tetapi sikap saling tidak menghargai karena perbedaan itu yang jadi masalah. Meski sulit dilakukan, setiap anggota keluarga mesti menghargai setiap pendapat satu sama lain. Ketika berdiskusi, ciptakan suasana yang nyaman sehingga tidak tegang.

2. Bersedia mendengarkan
Semua orang berhak memberikan pendapat dan memiliki kewajiban untuk mendengar pendapat yang lain. Kita tidak boleh bersikap egois dan hanya mau didengarkan saja. Memberikan ruang dan waktu kepada orang lain untuk menjelaskan maksud dari pendapatnya bisa mengubah pandanganmu terhadap sebuah kalimat.

3. Menerima perbedaan
Kamu wajib menerima perbedaan, karena hal tersebut merupakan hal yang pasti terjadi. Ketika orang lain tak berpendapat sama, kamu tidak boleh marah atau kesal pada orangnya karena lain kepala, lain juga pemikirannya. Perbedaan justru bisa membuat kamu dan semua orang bisa mencari sebuah keputusan yang paling baik dan tepat. Semakin banyak perbedaan, semakin banyak pilihan, bukan?

4. Mengakhiri pembicaraan
Jika nada bicara mulai meninggi, semua orang memaksakan kehendak, dan perbedaan pendapat dalam keluarga menimbulkan suasana negatif, ini saatnya mengakhiri pembicaraan. Perbedaan pendapat dan argumen dalam keluarga tak selalu berarti buruk, malah ini merupakan pelajaran baru yang berharga bagi setiap anggota keluarga.

 

Sumber https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/perbedaan-pendapat-dalam-keluarga/

 

 

 

 

en_US