Sudah sering banyak orang mengatakan: “Berikan dirimu untuk sesama, sebagai bentuk kasih.” Dalam praktiknya kita merasa berat untuk memberikan diri kita seutuhnya bagi sesama. Alhasil, praktik kasih jadi terhambat lantaran kita enggan memberikan diri seutuhnya.
Kita pikir memberikan diri adalah sesuatu yang besar sekali!
Itulah yang membuat misi lambat berkembang. Karena dibayangkan sebagai hal yang besaaarr sekali.
Memberikan diri sebagai pernyataan kasih, langkah misi, sebagai sesama bisa dilakukan dengan hal yang “sederhana.” Yaitu memberikan telinga kita untuk mendengar keluh kesah kehidupan mereka. Mereka butuh didengar.
Bukankah mendengar itu artinya mendekat?
Bukankah bermisi membutuhkan kedekatan? Berilah telinga Anda untuk mendengar kehidupan mereka, maka Anda sudah bermisi.


