Resolusi Bukan PHP!

“PHP”
Udah ga asing didengar, “Pemberi Harapan Palsu”. Ga ada yang senang di PHP-in.

Tapi, gimana kalo kita yang PHP diri sendiri?
Nah loh, emang bisa???

Kita kita udah melewati beberapa minggu di tahun 2023. Berasa cepat juga, bentar lagi masuk bulan Februari. Udah mau bulan kedua.
Waktu pergantian tahun, banyak orang bahas soal resolusi. Biasanya orang menganggap tahun baru memberi harapan untuk semangat memulai hal-hal yang udah kita rencanakan di lembar yang baru.
“New Year, New Me”.

Resolusi dibuat sebagai janji kita. Sayangnya, ga jarang semangat orang untuk mencapai resolusinya makin hari makin memudar, bisa karena berbagai hal, mulai dari resolusi yang dibuat tidak sesuai dengan kapasitas diri hingga keraguan diri untuk mencapainya.

Terus apakah resolusimu bakal PHP?

Eitsss… jangan sampai dong!

Berikut beberapa tips yang bisa kamu lakuin biar ga PHP-in diri atas resolusimu:

  1. Nikmati Langkah Kecil yang Konsisten
    Perubahan ga bisa dicapai dengan cara yang instan. Nikmati setiap prosesnya karena dari situ kamu jadi bisa melihat dan menghargai perjuanganmu dalam mencapai resolusi.
  2. Cari Support System
    Support system (partner pendukung) bisa jadi salah satu jawaban yang baik. Adanya support system, bisa mendukung, jadi orang yang bisa diajak cerita waktu melewati tantangan ataupun keberhasilan, ngasih solusi maupun kritik untuk mencapai yang lebih baik.
  3. Bijak dengan Tantangan
    Belajarlah menyikapi tantangan dengan bijak karena bisa jadi pintu masuk bagi suatu pencapaian. Tantangan saat ini bisa jadi refrensi untuk mengantisipasi tantangan yang kemungkinan dihadapi kedepannya dengan membuat perencanaan berlapis.
  4. Setiap Hari adalah Kesempatan Baru
    Walaupun hari dan bulan akan terus berganti, tapi tetap jadikanlah itu sebagai kesempatan baru untuk terus mencoba karena waktu bakal tetap terus berjalan.

Teruslah maju! Jangan sampai resolusi jadi PHP-mu!

Hatiku, Hatimu, Hatinya

Hati adalah ruang keniscayaan tentang siapakah kita.
Ruang yang sangat luas yang memperlihatkan seluruh isi pikiran dan perasaan kita.
Begitu luasnya sampai-sampai kita sendiri tidak dapat memahami isi hati kita. Bahkan kita dapat tersesat oleh isi hati hingga akhirnya melakukan yang mengejutkan!

Betapa mengerikannya bila kita tidak dapat mengenal dan mengendalikan seluruh isi hati!
Untuk mengendalikannya, kita perlu pertolongan.
Melalui pertolongan tersebut kita dapat mengenal ruangan hati dan isi hati kita. Ada baik dan ada pula yang buruk.

Mengendalikan hati adalah perjuangan hidup.
Namun melalui pengendalian hati, maka hidup kita pun akan terkendali!

Sudahkan engkau mengenal dan mengendalikan isi hatimu?

Hikikomori: Hadapi dan Nyatakanlah Dirimu!

Di Jepang, Hikikomori ini adalah suatu tradisi dimana seseorang mengurung/menarik diri dari kehidupan sosial. Kebanyakan dari mereka yang melakukannya ialah para kaum muda. Padahal, kalo liat realita kehidupan yang makin berkembang, umumnya kita setuju bukan kalo kehidupan sosial tuh penting banget? Apalagi buat generasi muda.

 

 

Apa kamu jadi salah satu orang yang lagi menarik diri?

 

Yuk hadapi dan nyatakanlah dirimu! Kamu ga sendiri!

Trigger

Buat kita yang punya masa lalu kurang baik, kesel banget ga sih kalo lagi masa-masa triggered?

 

Huft! Gimana ya, mau ngapa-ngapain rasanya dibayangi kelam terus.

 

Susah sihhh… tapi apa trigger itu menghambatmu maju? Itu bukan maumu, tapi kamu yang jadi dirugikan.”

 

Butuh teman cerita?

Jangan ragu!

Lemah!

“Yaelah, emang lo bisa?”

Sering ga sih denger orang ngomong gitu? Atau mungkin kamu sasaran dari sindiran itu?

Belum lama ini aku bertemu dengan mereka-mereka yang konon sering di cap “lemah”. Mereka cerita kalo banyak orang yang sering menyindir. Minder? Rasanya manusiawi ya.

Menurut kalian, apakah yang “lemah” itu benar-benar lemah?

 

 

Kata siapa?

Salut sih, soalnya dibalik pengakuan rasa minder mereka atas kelemahan, mental dan tekad mereka ga lemah!

 

Kalau mereka aja ga larut dalam kelemahan, apakah justru kita yang masih sebaliknya?

Harapan

HARAPAN adalah hal yang melekat pada setiap makhluk hidup di dunia ini. Baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Semuanya melekat pada harapan. Setidaknya sebuah kebenaran menyatakan hal tersebut, yang menyatakan bahwa harapan pun ada melekat pada makhluk hidup selain manusia: “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.

HARAPAN adalah pernyataan tentang hidup.
Bagi yang hidup perlu beralaskan harapan.

Adakah engkau pernah memikirkan mereka, manusia, yang putus harapan?
Adakah ada hati dan doa yang pernah terselip mengusahakan harapan bagi mereka?

 

Berhitung

Perhitungan proyeksi ke depan merupakan tindakan yang tepat!

Perhitungannya harus detail, yaitu cermat memperhitungkan plus minus apa yang akan terjadi. Perhitungan secara umum dikenal sebagai tindakan melihat ke depan. Aku rasa banyak orang akan setuju tentang hal ini.

Namun, aku mau berbagi bahwa ada saatnya kita perlu menghitung apa yang sudah pernah terjadi, karena catatan sejarah hidup kita merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya untuk diperhitungkan!

Kehidupan kita yang lalu merupakan rangkaian hasil perhitungan yang pernah kita lakukan! Coba lihat perhitunganmu di masa lalu, maka masa depanmu akan lebih beruntung!

 

Mengejar Mimpi

Kalimat “mengejar mimpi” sejak zaman doeloe sudah jadi kalimat yang sering dipakai untuk menggambarkan usaha mewujudkan cita-cita atau harapan. Biasanya episode “mengejar mimpi” disetting dengan tokoh orang susah dari desa sonoooo lalu berhasil sukses tajir melintir di kota besar.

Episode “mengejar mimpi” tendensius dengan gambaran: miskin jadi kaya, pengemis jadi sultan, bodoh jadi pintar, jomblo jadi selebgram, receh jadi milyar, dan banyak gambaran yang hype lainnya. Yang pasti jarang banget “mengejar mimpi” digambarkan sebagai: yang kaya jadi susah dan happy, yang milyarder jadi jual bakso and happy puas banget, yang kota pindah ke kampung dan happy betah seribu tahun.

Jadi apa sebenarnya yang dimaksud dengan MENGEJAR MIMPI? Dari yang rendah melaju naik ke atas, atau yang penting terlihat mimpinya terwujud? Lalu bagaimana yang mimpinya terkesan “aneh” kaya mimpi bisa menolong banyak orang sampai rela miskin dan susah tapi happy melihat banyak orang susah jadi happy?

Apa mimpimu?

 

 

Cara Berhenti Menyenangkan Orang Lain

Dalam hidup, kadangkala kita mengenyampingkan hal-hal yang penting hanya untuk menyenangkan orang lain. Kalimat : “Ngga apa-apa asalkan kamu senang”; “Aku baik-baik saja yang penting Ibu senang dengan program itu” dan masih banyak macam lagi. Baik di rumah, lingkungan tinggal atau tempat kerja kita mungkin akan ketemu dengan kalimat-kalimat itu. Tidak ada yang salah dalam menyenangkan orang lain, tapi ketika itu dilakukan dengan terpaksa, maka ketulusan akan sulit diberikan kepada orang ingin disenangkan. Bukannya hati kita senang, namun perasaan dongkol kadang jadi bersarang di hati dan di pikiran kita. Yuk kita belajar bagaimana cara yang tepat untuk berhenti sekedar menyenangkan orang lain.

• Bersikap Jujur
Ketika kita bersikap jujur tentang apa yang kita rasakan, kita sebetulnya sedang membuat orang lain tahu apa isi hati kita dan itu akan menolong mereka memahami pemikiran kita.

• Ketahui Kebutuhanmu
Mengetahui apa yang menjadi kebutuhan kita lalu menyampaikan kepada orang lain, itu akan menolong kita dan orang lain sebagai jalan terbaik bagi semua pihak.

• Katakan TIDAK dengan baik
Butuh nyali yang besar untuk dapat mengatakan TIDAK pada hal yang memang seharusnya demikian. Tapi ketika kita berhasil menyatakannya, itu lebih berkuasa dari hal lainnya.

• Mempraktikkan Kepedulian Terhadap Diri Sendiri
Berlatih fisik, berolah raga, mengelola emosi dan kerohanian diperlukan agar dapat tetap waras berpikir ketika harus mengatakan TIDAK dan itu berarti peduli pada kewarasan diri.

• Tinggalkan Rasa Bersalah
Ketika kata TIDAK telah terucap dan ini muncul dari pemikiran yang benar, maka jangan merasa bersalah. Tinggalkan rasa bersalah itu dibelakang.

• Percayalah Bahwa Semua Akan Baik-baik Saja
Tidak perduli reaksi apa yang akan kamu dapatkan, mereka yang sungguh mengasihi kamu bisa menghormati apa yang menjadi kebutuhanmu.

 

So, Happy Practice…!

Sumber : DR. Nora Gold

 

 

 

Perbedaan Pendapat Di Dalam Keluarga

Apa yang diinginkan orang tua dan kehendak anak biasanya sering bersinggungan, sehingga dapat menimbulkan beberapa masalah yang bisa memicu atau menyebabkan adanya masalah keluarga. Keluarga bisa menjadi tempat berlindung yang aman, tetapi bagi sebagian orang bisa jadi sumber rasa sakit dan kekecewaan.

Perbedaan pendapat antara anak dan orang tua terkadang bisa membuatmu merasa tidak nyaman. Nyaman yang seharusnya bisa kamu rasakan, tapi malah membuatmu tidak betah berada di rumah.

Penyebab perbedaan pendapat yang sering terjadi dalam keluarga antara lain; tidak memberikan kesempatan orang lain untuk berbicara, takut untuk mengemukakan pendapat, memaksa orang lain untuk meyakini sesuatu, dan masih banyak lagi.

Lalu, bagaimana cara untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dengan bijaksana?

1. Saling menghargai satu sama lain
Perbedaan pendapat bukanlah sebuah masalah, tetapi sikap saling tidak menghargai karena perbedaan itu yang jadi masalah. Meski sulit dilakukan, setiap anggota keluarga mesti menghargai setiap pendapat satu sama lain. Ketika berdiskusi, ciptakan suasana yang nyaman sehingga tidak tegang.

2. Bersedia mendengarkan
Semua orang berhak memberikan pendapat dan memiliki kewajiban untuk mendengar pendapat yang lain. Kita tidak boleh bersikap egois dan hanya mau didengarkan saja. Memberikan ruang dan waktu kepada orang lain untuk menjelaskan maksud dari pendapatnya bisa mengubah pandanganmu terhadap sebuah kalimat.

3. Menerima perbedaan
Kamu wajib menerima perbedaan, karena hal tersebut merupakan hal yang pasti terjadi. Ketika orang lain tak berpendapat sama, kamu tidak boleh marah atau kesal pada orangnya karena lain kepala, lain juga pemikirannya. Perbedaan justru bisa membuat kamu dan semua orang bisa mencari sebuah keputusan yang paling baik dan tepat. Semakin banyak perbedaan, semakin banyak pilihan, bukan?

4. Mengakhiri pembicaraan
Jika nada bicara mulai meninggi, semua orang memaksakan kehendak, dan perbedaan pendapat dalam keluarga menimbulkan suasana negatif, ini saatnya mengakhiri pembicaraan. Perbedaan pendapat dan argumen dalam keluarga tak selalu berarti buruk, malah ini merupakan pelajaran baru yang berharga bagi setiap anggota keluarga.

 

Sumber https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/perbedaan-pendapat-dalam-keluarga/

 

 

 

 

id_ID