Memberi Lebih

Banyak orang mengeluh saat ini adalah masa yang sulit. Ketika pandemi meluas dan krisis mulai terjadi semua yang diupayakan dalam pekerjaan terasa sulit dan membuat orang menjadi serba perhitungan. “Ah.. nggak usah bantu dia.. kita aja susah…” atau “..udah..cukup.. sedikit aja ngasih nya… nanti kita rugi..

Sepintas dilihat dari kondisi dan situasi terlihat memang apa yang terjadi wajar dan biasa saja.

Tapi tahukah apa yang ditabur, itu juga yang akan dituai?

Ketika memberikan lebih dari yang diminta, melakukan service dari hati, atau menyelipkan
“empati” dalam setiap pekerjaan, orang di sekitar tentu saja dapat merasakan energi positif tersebut.

Memberi lebih tentu saja tidak bisa terasa sekarang dampaknya. Tapi ketika waktu berjalan melewati kondisi sulit dan menengok ke belakang, hanya ada satu kata yang terucap… “itu bukanlah hal yang sia-sia…

Ngantor

Setiap orang kepingin kerja. Atau istilah yang sering dipakai adalah setiap orang kepingin pergi ngantor! Wkwkwkwk…. Kantor jadi identitas sosial yang paling dicari orang. “Kantornya di mana?” Jawabannya jadi sesuatu banget! Kalau lokasi kantornya “jelas” alias gampang dikenalin atau ada di daerah elite/downtown, maka jawabnya pasti tidak ragu-ragu! Malah jawabnya sambil ngegas poll!

Lalu, kalau kantornya ada di mana gituuu… yang gak banyak orang tahu, volume jawabannya sontak agak pelan. Sampai yang bertanya ulang: “hah?? di mana??”
Tapi sebenarnya ilustrasi ini tidak sepenuhnya benar.
Percaya diri atau tidak, seharusnya tidak dipengaruhi oleh label kantor.

Kita, kamu dan aku bisa ngantor di mana saja! Bahkan di rumah pun kita bisa ngantor. Kenapa engga? Toh yang penting menghasilkan dan kita puas atas hasil pekerjaan kita. Kamu pikir aku ngantor di mana? Hayo tebak! wkwkwkwk…

 

 

 

Jarak Pandang

Ketika dulu aku masih berputar-putar dengan permasalahan dosa yang memang tidak mau aku selesaikan, jarak pandangku tentang masa depan sangatlah buram! Karena yang aku lihat nyata hanyalah permasalahan dan permasalahan belaka! Kondisi itu membuat diriku jenuh dan enggan melanjutkan kehidupan.

Aku juga menemukan banyak anak muda yang hidupnya seperti aku dulu. Yaitu punya pandangan yang buram tentang masa depan. Apakah kamu juga begitu? Tidakkah kamu mau melihat hidupmu dengan kacamata yang lebih jernih?

Cobalah kamu berbicara pada Tuhan. DIA adalah pusat perubahan. DIA adalah terang bagi masa depan kita; aku dan kamu.

 

 

House Rule

Penting menerapkan peraturan rumah. Karena peraturan rumah menjadi bahasa yang mengarah pada setiap anggota keluarga. Bahkan menjadi warisan turun temurun.

Peraturan keluarga dapat pula dilihat sebagai sebuah budaya keluarga. Yaitu segala sesuatu, baik pikiran maupun tindakan keluarga tertata oleh peraturan yang sudah menjadi kebiasaan keluarga.

Sudahkah Anda memiliki peraturan rumah?

 

 

Duit : Mengapa selalu kurang?

12 November 2022, CWP menyelenggarakan Talkshow Literasi Keuangan.

Kenapa penting ngomongin keuangan?

Penting lah yaaaa….punya duit berapapun kok kayaknya selalu kurang. Tiap bulan dapat uang saku yang nilainya sama, dapat gaji yang sama juga angkanya. Pengeluaran juga sepertinya sama aja. Tapi tanggal gajian masih jauuuhhh belum sampe tengah bulan udah boncos! Seperti lingkaran yang terus berulang. Duit selalu aja kurang.

So…apa yang harus dilakukan? Tentu kata orang yang melek keuangan ya harus tahu cara ngaturnya. Gimana caranya? Mungkin bisa mencoba beberapa cara berikut ini :

  1. Tentukan prioritas; atur keuangan mana yang lebih penting supaya bisa berhemat.
  2. Buat budgeting; membuat alokasi keuangan supaya kita memiliki kontrol terhadap keuangan. Buat budgeting sederhana ala kamu sendiri. Misalnya : 10% untuk ibadah : 5% untuk sosial : 10% untuk tabungan : 10% untuk investasi : 5% untuk rekreasi : 10% untuk cicilan; 50% untuk biaya hidup.
  3. Guilty Leisure; berpikir kembali ketika akan mengeluarkan uang. Jangan sampai kita merasa bersalah setelah mengeluarkan uang untuk kesenangan sesaat.

Pasti berhasil ngga sih ketika kita menjalankan cara-cara itu? Ya belum tentu. Perlu penguasaan diri dalam menjalankannya.
Tapi lebih baik mencoba daripada ngga sama sekali ya kaaannn.

Selamat mencoba!

 

 

Fresh!

Awal hari kita butuh fresh. Jelang akhir hari, sometimes, kita pun mengejar yang fresh agar bisa beristirahat dengan nyaman.

Namun banyak orang memulai hari dengan suntuk, dan menutup hari juga dengan hati yang terkatup! Seakan tidak ada kesegaran yang menjadi energi memulai hari.

Bagaimana kita bisa fresh? Apakah kita menunggu begitu saja agar fresh atau kita bisa membuatnya agar kita dapat mengawali dan menutup hari dengan fresh?

Mental Murah!

Pada suatu waktu, aku sedih saat nyalain TV, yang kuliat justru seorang remaja nekat jual ginjalnya hanya buat memenuhi kesenangannya sesaat.

Apa dia ga berpikir ulang betapa berharganya ginjal itu? Mungkin kita memang punya 2 ginjal, tapi kalau diambil satu, masihkah yang satu itu masih bisa berfungsi dengan baik?

Gimana denganmu? Relakah kamu melakukan hal yang sama?

Bukan Sekedar Berucap!

Komunikasi, bukankah rasanya penting, ya? Mau se-introvert apa pun orang itu, paling engga, kalau ditanya, bisa jawablah.

Gimana jadinya kalau meski kita sudah bertumbuh dewasa, tapi rasanya buat jawab pertanyaan orang aja “sulit”?

Itulah kisah yang pernah kudengar dari seorang kenalan temanku. Konon katanya, akibat banyak tekanan mental dari orang-orang sekitarnya di masa lampau.

Lalu, bisakah kita menyalahkan orang-orang itu?
Ah, sudahlah! Semoga ada kemajuan dari dirinya.

Keras Lidah – Lukai Tanpa Darah

Akhir-akhir ini viral banget kasus KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Dimana-mana selalu terngiang-ngiang. Sebenarnya, apa KDRT cuma tentang kekerasan fisik? Terus kalo ada yang ngerasa tekanan mental gara-gara ucapan orang lain, apa ga termasuk “kekerasan”?

Aku pernah diceritain seorang teman, sebutlah Rembulan. Dalam keluarganya memang ga pernah ada kekerasan fisik sih, tapi hampir tiap hari kehidupan dalam keluarganya diwarnai dengan kata-kata yang menggores hati. Tak khayal, itu menjadi luka yang membekas dalam hatinya. Sampai akhirnya, katanya rasanya susah banget buat keluar dari zona yang menyakitkan dan berlari meraih impiannya.

Haruskah kita menyesali dan menyalahkan takdir ini?

Baru Yang Tabu

Sebuah puisi yang tidak peduli didengar atau tidak:
Luka itu bukan hal yang baru. Sudah ada sejak dulu.
Namun, sekalipun bukan hal yang baru, tidak ada yang tahu
Satu orang pun tidak ada yang tahu!
Bahkan aku pun seperti tulang yang penuh linu namun lidah kelu tak mampu mengeluh!

Lukaku ini bukan hal yang baru ….
Ku tutup rapat seperti hal tabu.

en_US