Kesulitan Yang Menggulung Semenjak Dulu!

Hidup “memang” rentan saling menyalahkan. Termasuk di dalam kehidupan keluarga. Antara anak dengan ortu selalu saja ada pemicu yang bisa dipergunakan untuk saling menyalahkan. Bahkan ekstremnya anak bisa memiliki pikiran bahwa kalau ortunya meninggal itu sebuah “kesempatan yang enak!” karena meninggalkan persoalan. Sementara bagi anak persoalan itu harus dia bawa dalam hidup dan itu adalah penderitaan!

Hidup yang saling menyalahkan berakibat pada akumulasi penderitaan yang bergulung-gulung. Sang anak yang membawa kekesalan keturunan dari ortunya, akan beranjak dewasa dan kemudian menikah, lalu alhasil punya peluang untuk menurunkan akumulasi penderitaan itu kepada anaknya. Demikian berulang dan semakin tajam!

Hidup yang rentan saling menyalahkan harus ketemu portal yang dapat menghentikan akumulasi penderitaan! Portal seperti apa ya?

Kesulitan Yang Tidak Menyulitkan

Kesulitan adalah keniscayaan. Tidak ada manusia yang tidak mengalami kesulitan. Bahkan seorang bayi pun yang baru lahir sudah berjumpa dengan kesulitan. Kemanakah manusia dapat berlari dan bersembunyi dari kesulitan? Tidak ada tempat di dunia yang dapat menjanjikan bebas sepenuhnya dari kesulitan. Kesulitan seperti sebuah pribadi yang mengintai setiap saat dan segera bergegas masuk ke dalam hidup kita yang memberikan kesulitan.

Bagaimanakan memandang kesulitan sebagai hal yang memang harus kita tanggung? Sementara tubuh kita seperti punya reaksi alami untuk menolak kesulitan.

Kami yang berada di bawah CWP adalah orang-orang yang bergelut dengan kesulitan. Melalui kesulitan kami mencoba menata kekuatan hidup melalui kreativitas. Kami pun percaya, seperti kesulitan yang merupakan keniscayaan, kreativitas pun sebuah keniscayaan! Mau kemanakah arah keniscyaan hidup kita? Melekat melulu dengan kesulitan atau berselancar dengan kreativitas?

en_US